tidak semua bakteri dapat membentuk endospora.
meskipun semua bakteri lain dan juga sel-sel vegetatif dari bakter-bakteri pembentuk spora dapat dimatikan dengan pemanasan pada suhu 80 derajad celcius selama kurang lebik 10 menit.
endospora termoresisten dapat bertahan pada pemanasan yang jauh lebih kuat.
beberapa spora bahkan tahan dimasak untuk beberapa jam.
a. klasifikasi bakteri pembentuk spora.
dengan beberapa kekecualian bakteri membentuk endospora berbentuk batang dan gram (-).
kebanyakan bakteri ini dapat bergerak dengan cemeti yang fersematkan " peritrich".
angota-anggota keluarga bacillus bersifat anaerob sejati atau fakulatif.
pembentukan spora anaerob terhimpun dalam keluarga clostridium dan desulfomaculatum.
clostridium tergantung pada perolehan energi secara respirasi anaerob dengan sulfat sebagai akseptorelektron.
b. mengenali endospora.
pada mikroskopis seorang pengamat, akan mengenali spora ini karena indeks bias spora tinggi.
spora ini mirip protein yang kehilangan airnya, sehingga menunjukkan bahwa dalam spora terdapat sejumlah besar bahan kaya protein yang terdapat dalam ruangan sempit.
spora mengandung hampir seluruh massa kering sel induknya, tetapi volumenya hanya 1/10 dari volume sel induk.
spora dapat dibedakan menggunakan pewarna spora. metode pengecatan yang digunakan untuk mengetahui adanya spora.
APA SIH GULA REDUKSI ITU...??
Diposting oleh empop di 01.06 Label: kesehatan
GULA REDUKSI
Gula reduksi adalah gula yang mempunyai kemampuan untuk mereduksi. Hal ini
dikarenakan adanya gugus aldehid atau keton bebas. Senyawa-senyawa yang
mengoksidasi atau bersifat reduktor adalah logam-logam oksidator seperti Cu
(II). Contoh gula yang termasuk gula reduksi adalah glukosa, manosa, fruktosa,
laktosa, maltosa, dan lain-lain. monosakarida yang mempunyai kemampuan untuk
mereduksi suatu senyawa. Sifat pereduksi dari suatu gula ditentukan oleh ada
tidaknya gugus hidroksil bebas yang reaktif. Prinsip analisanya berdasarkan
pada monosakarida yang memiliki kemampuan untuk mereduksi suatu senyawa. Adanya
polimerisasi monosakarida mempengaruhi sifat mereduksinya (Baedhowie, 1982).Pada praktikum kali ini dilakukan penetapan karboohidrat melalui penetapan kadar gula reduksi dengan metode Penentuan gula reduksi dengan metode Luff-Schoorl ditentukan bukan kuprooksidanya yang mengendap tetapi dengan menentukan kuprooksida dalam larutan sebelum direaksikan dengan gula reduksi sesudah reaksi dengan sample gula reduksi yang dititrasi dengan Na-Thiosulfat. Selisihnya merupaka kadar gula reduksi. Reaksi yang terjadi selama penentuan karbohidrat dengan cara Luff-Schoorl adalah mula-mula kuprooksida yang ada dalam reagen akan membebaskan Iod dari garam KI. Banyaknya iod dapat diketahui dengan titrasi menggunakan Na-Thiosulfat. Untuk mengetahui bahwa titrasi sudah cukup maka diperlukan indicator amilum. Apabila larutan berubah warna dari biru menjadi putih berarti titrasi sudah selesai. Selisih banyaknya titrasi blanko dan sample dan setelah disesuaikan dengan tabel yang menggambarkan hubungan banyaknya Na-Thiosulfat dengan banyaknya gula reduksi (Sudarmadji, 2000).
Reaksi yang terjadi adalah :
R – COOH + CuO Cu2O + R – COOH
Cu2O + arsennomolybdat molybdine blue
metode yang digunakan untuk menguji gula reduksi adalah Luff schoorl. Metode Luff Schoorl ini baik digunakan untuk menentukan kadar karbohidrat yang berukuran sedang. Dalam penelitian M.Verhaart dinyatakan bahwa metode Luff Schoorl merupakan metode tebaik untuk mengukur kadar karbohidrat dengan tingkat gula pe-reduksi karbohidrat. Pada metode Luff Schoorl terdapat dua cara pengukuran yaitu :
- Penentuan Cu tereduksi dengan I2
- Menggunakan prosedur Lae-Eynon
Metode Luff Schoorl mempunyai
kelemahan yang terutama disebabkan oleh komposisi yang konstan. Hal ini
diketahui dari penelitian A.M Maiden yang menjelaskan bahwa hasil pengukuran
yang diperoleh dibedakan oleh pebuatan reagen yang berbeda.
Pengukuran karbohidrat yang
merupakan gula pereduksi dengan metode Luff Schoorl ini didasarkan pada reaksi
sebagai berikut :
R-CHO + 2 Cu2+ R-COOH +
Cu2O
2 Cu2+ + 4 I-
Cu2I2 + I2
2 S2O32-
+ I2 S4O62- + 2 I-
Monosakarida akan mereduksikan CuO
dalam larutan Luff menjadi Cu2O. Kelebihan CuO akan direduksikan
dengan KI berlebih, sehingga dilepaskan I2. I2 yang
dibebaskan tersebut dititrasi dengan larutan Na2S2O3.
Pada dasarnya prinsip metode analisa yang digunakan adalah Iodometri karena
kita akan menganalisa I2 yang bebas untuk dijadikan dasar penetapan
kadar. Dimana proses iodometri adalah proses titrasi terhadap iodium (I2)
bebas dalam larutan. Apabila terdapat zat oksidator kuat (misal H2SO4)
dalam larutannya yang bersifat netral atau sedikit asam penambahan ion iodida
berlebih akan membuat zat oksidator tersebut tereduksi dan membebaskan I2
yang setara jumlahnya dengan dengan banyaknya oksidator. I2 bebas
ini selanjutnya akan dititrasi dengan larutan standar Na2S2O3
sehinga I2 akan membentuk kompleks iod-amilum yang tidak larut dalam
air. Oleh karena itu, jika dalam suatu titrasi membutuhkan indikator amilum,
maka penambahan amilum sebelum titik ekivalen.
Metode Luff Schoorl ini baik
digunakan untuk menentukan kadar karbohidrat yang berukuran sedang. Dalam
penelitian M.Verhaart dinyatakan bahwa metode Luff Schoorl merupakan metode
tebaik untuk mengukur kadar karbohidrat dengan tingkat kesalahan sebesar 10%. Alat-alat yang digunakan adalah labu takar, pipet tetes,
erlenmeyer, buret, gelas ukur, kertas saring. Selanjutnya, bahan-bahan yang
digunakan adalah Pb Asetat setengah basa, Na2HPO4 10 %, KI 30 %, H2SO4 25 %,
Na2S2O3 0,1 N, larutan Luff, aquades, indikator PP.
Daftar Pustaka :translate
Labels
- kesehatan (1)
- mikrobiologi (1)
- TEKNOLOGI (1)
Blog archive
Diberdayakan oleh Blogger.
Pengikut
Mengenai Saya
- empop
- shallom...tmen tmen...makasih ya udah mo buka blog q... folloow q y,, n cpa yg pny tmen dr luar negri...srh bka blog q...hehehe penting nih buat nilai... n tnang ajah..blog q isiny g macem" ko...hehehe. GBU
Feedjit
clocklink
Powered by WordPress
©
empop - Designed by Matt, Blogger templates by Blog and Web.
Powered by Blogger.
Powered by Blogger.